Minggu, 05 November 2017

Perbandingan Sistem Pendidikan Perancis dan Indonesia

Oleh : Alfian Jamrah
(Pemerhati Masalah Pendidikan)
                     
Abstract
Sistem pendidikan pada setiap Negara berbeda-beda dan memiliki ciri khas tersendiri sesuai kondisi negara tersebut yang tidak dimiliki oleh Negara lainnya.  Ada beberapa Negara yang sudah sangat maju pendidikannya, tetapi banyak pula yang sedang dan yang lambat sekali perkembangannya.  Historis Negara sangat menentukan sistem pendidikannya yang terlihat dari kebijakan dan politik pendidikan Negara tersebut.  Kemudian juga dipengaruhi oleh geografis suatu negara, potensi sumber daya alam dan kebijakan keuangannya.  Selama ini ada negara yang telah menjadikan pendidikan sebagai tujuan utama sehingga prosentase terbesar anggaran negara digunakan untuk dunia pendidikan.  Dan bahkan mereka menempatkan guru pada posisi yang sangat tinggi dengan gaji yang tinggi pula.
Perancis adalah salah satu negara yang maju pendidikannya diantara beberapa negara Eropa lainnya.  Perancis juga telah menjadi tujuan pendidikan di dunia sehingga didatangi oleh ribuan orang mahasiswa dari seluruh penjuru dunia.  Dalam artikel ini kita coba membandingkan sistem pendidikan yang berlaku di Perancis dengan di Indonesia. Tujuannya adalah untuk memetik nilai-nilai positif yang ada di Perancis dan kemudian menerapkan di Indonesia sesuai kondisi dan potensi Indonesia sendiri.  Namun demikian akan sulit bagi kita untuk menandingi sistem pendidikan di Perancis tersebut.









A.     Mengenal Negara Perancis
Perancis adalah salah satu Negara di benua Eropa yang dikenal sebagai pusat mode dunia karena di sini banyak bermukim desainer terkenal dunia yang menghasilkan karya seni tinggi dan sebagai destinasi penting pariwisata dunia dengan iconnya menara Eifel. Perancis adalah suatu negara besar dengan penduduk lebih dari 55 juta jiwa pada saat ini  dengan luas wilayah sekitar 545.630 Km2. Tingkat pertumbuhan penduduk sekitar  0,5 persen per tahun serta kepadatan wilayah mencapai 100 jiwa per km persegi.  Jika dibandingkan dengan Indonesia maka Perancis jauh lebih kecil, penduduk Indonesia tahun 2013 ini telah mencapai sekitar 250 juta jiwa dengan wilayah yang hampir sepanjang benua Eropa.
Republique Francaise terletak pada wilayah Eropa Barat, tetapi Negara ini mempunyai beberapa wilayah teritorial di benua lain. Dari sisi historis Perancis merupakan satu unit politik yang dipersatukan oleh penjajah Romawi Kuno, oleh karena itu beberapa segi kehidupanpun dipengaruhi oleh budaya Romawi. Sementara itu Indonesia pernah diduduki oleh kolonial Belanda, Jepang, Inggris dan Portugis sehingga juga memberi warna terhadap budaya negeri ini.  Pengaruh Belanda cukup besar tarhadap budaya Indonesia, dan termasuk juga terhadap sistem pendidikannya.
Penduduk Perancis menggunakan bahasa aslinya, yaitu bahasa Perancis yang merupakan salah satu bahasa internasional karena juga digunakan pada beberapa Negara, seperti  di Belgia, pada beberapa negara di kawasan Afrika Barat, pada negara bekas jajahan Perancis di Pasific dan lainnya. Bahasa Perancis juga telah menjadi bahasa pengantar resmi yang digunakan oleh Masyarakat Uni Eropa serta sebagai bahasa pengantar resmi di badan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).   Di Indonesia digunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan.  Meskipun Indonesia memiliki ratusan macam bahasa daerah, namun masyarakatnya dapat disatukan oleh Bahasa Indonesia.  Akan tetapi Bahasa Indonesia belum menjadi bahasa internasional karena belum digunakan di negara-negara lain.
Selama ini banyak orang yang mengenal Perancis sebagai kota model karena dari negara ini setiap hari bahkan setiap jam lahir model-model baru, terutama fashion, kosmetik dan assesories lainnya. Akan tetapi Perancis juga memiliki kemampuan yang tinggi di bidang tekhnologi, seperti  tekhnologi otomotif dengan kereta cepat, memproduksi pesawat Airbus, tekhnologi telekomunikasi dan lain sebagainya. Maka Perancis juga menempatkan diri sebagai negara industri maju di dunia.
Sistem pemerintahan Perancis mulai berkembang pada abad ke-19 yang ditandai dengan kemajuan yang dicapai melalui ide-ide pemikiran sosial, politik, ekonomi dan pendidikan yang digagas oleh kaum menengah. Pembaruan-pembaruan tersebut ternyata mampu merubah Perancis menjadi sosok bangsa yang maju dan disegani oleh negara-negara Eropa. Kamajuan sosial politik Perancis punya keterkaitan dengan penyelenggaraan pendidikannya, yakni dengan tumbuh pesatnya berbagai pembangunan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.  Sedangkan Indonesia sebagai negara berdaulat diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, yaitu hampir satu abad lebih muda dari Perancis.  Pendidikan di Indonesia baru mulai terbuka sejak diberlakukannya politik Pintu Terbuka yang diprakarsai oleh warga Belanda Van de Venter pada tahun 1870.  Sejak saat itulah mulai terbuka mata bangsa ini untuk menempuh pendidikan secara formal.
Saat ini Negara Perancis menjadi salah satu favorit tujuan pendidikan, bahkan menempati urutan keempat di dunia.  Ada sekitar 300.000 orang mahasiswa asing yang sedang menuntut ilmu disana karena konon kabarnya biaya pendidikan di Negara itu relatif rendah.  Perancis memiliki sistem pendidikan tinggi yang agak rumit untuk memberikan gelar dan proses kuliahnya. Namun sebagai bagian dari Bologna Process, kini gelar di Prancis distandarisasi menjadi Licence, Master, dan Doctoral. Hal ini sama dengan gelar Sarjana, Master, dan Doktor di Indonesia.
      
B.     Politik dan Tujuan Pendidikan
Pembangunan sistem pendidikan telah dilakukan sejak akhir abad ke-19, yaitu ketika Jules Ferry, seorang pengacara dari Menteri Pengajaran Publik (Minister of Public Instruction) membuat terobosan baru dalam pembangunan pendidikan di Perancis, yaitu mewujudkan sekolah republikan modern yang dapat menampung semua anak dibawah usia 15 tahun.  Kemudian juga mewajibkan pendidikan  bagi rakyat secara gratis (free of charge) sesuai peraturan dalam “La loi d’orientation sur l’éducation No. 89-486 tertanggal 10 Juli 1989“.   Dalam hal ini pendidikan menempati urusan pertama dalam skala prioritas nasional Perancis.
Sementara itu sistem Pendidikan Nasional Indonesia diatur dalam Undang-Undang Nomor : 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang terdiri atas :
  1. Pendidikan umum : memprioritaskan penguasaan pengetahuan umum dan perbaikan keterampilan siswa,
  2. Pendidikan vokasional : mempersiapkan siswa dengan sejumlah keterampilan vokasional yang dibutuhkan para pekerja,
  3. Pendidikan berkebutuhan khusus : memberikan keterampilan dan kemampuan penting bagi siswa dengan keterbatas fisik dan mental,
  4. Pendidikan kedinasan : bertujuan untuk meningkatkan kemampuan yang dibutukan sebagai persiapan dan meningkatkan kapasitas sebagai calon pegawai negeri pemerintahan,
  5. Pendidikan agama : mempersiapkan siswa untuk memperoleh pengetahuan khusus tentang agama dan pelajaran yang terkait,
  6. Pendidikan yang berorientasi akademik berfokus kepada perbaikan penguasaan sain,
  7. Pendidikan professional : mempersiapkan siswa untuk menguasai spesialisasi pekerjaan yang berkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan.
Pendidikan adalah suatu hak dan sekaligus kewajiban bagi anak-anak yang berusia antara enam  hingga enam belas tahun dengan beban biaya sepenuhnya ditanggung oleh  pemerintah. Sementara itu di Indonesia pendidikan juga telah dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan pada pasal 31 (1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, dan (3) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.  Berarti Indonesia juga sudah menjamin warganya untuk memperoleh pendidikan yang disediakan oleh pemerintah, seperti wajib belajar yang diatur oleh Peraturan Pemerintah RI Nomor : 47 tahun 2008 tentang Wajib Belajar.
Pada dasarnya penyelenggaraan pendidikan di Perancis berlangsung secara sentralistik karena dipengaruhi oleh sistem politik dan sejarah pemerintahannya yang berulang kali bersifat sentralistik pula. Maksud dari sentralistik di sini yakni pendidikan dipusatkan sepenuhnya kepada pemerintah. Kementrian Pendidikan (Ministry of National Education) memiliki peran sangat penting dalam memajukan pendidikan secara keseluruhan. Selain itu, pemerintah juga menekankan program wajib belajar 16 tahun secara gratis pada setiap jenjang pendidikan.  Di Indonesia pendidikan juga diatur secara Nasional meskipun tingkat kemampuan daerah tidaklah sama.  Pemerintah telah menetapkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang menjadi acuan bagi pelaksanaan pendidikan di seluruh tanah air.  Akan tetapi tetap diperhatikan dan diberi ruang gerak untuk potensi sumber daya lokal.
Sistem pendidikan di Perancis mencerminkan elektivitas yang juga terdapat pada pemerintahan dan kehidupan sosial lainnya. Rakyat dan pemerintah Perancis memberi kewenangan pada dua majelis nasional representatif, yaitu :  (1) Majelis Chamber of Deputies yang dipilih langsung oleh rakyat, dan (2) Senat yang dipilih oleh badan pemilih (electoral college).  Di Indonesia bisa disamakan dengan DPR-RI yang pada komisi tertentu juga mengurus masalah pendidikan secara spesifik.  Oleh karena itu dalam pelaksanaannya rakyat tidak memerintah sendiri karena mereka telah mendelegasikan kedaulatannya kepada deputi-deputi terpilih dan para electoral (anggota electoral college), yaitu orang-orang yang secara teori berkualitas lebih baik untuk menjalankan pemerintahan secara rasional dibandingkan warga biasa.
Pendidikan di Perancis pada umumnya ditanggung oleh pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Pendidikan Nasional (Ministere de l’Educatioan National). Di Indonesia, selain ditanggung oleh pemerintah pusat maka pendidikan juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah propinsi, kabupaten dan kota.  Pemerintah daerah juga menyediakan anggaran pendidikan dalam APBD dan membuat kebijakan-kebijakan untuk pelaksanaan pendidikannya. Sama halnya dengan Indonesia, Perancis juga memberikan kesempatan yang sama dan merata bagi seluruh lapisan masyarakat untuk memperoleh pendidikan.
Pada umumnya setiap anak pada usia enam tahun sudah memasuki dunia pendidikan melalui program primary school (ecole primaire). Pendidikan formal ini biasanya didahului dengan ecole matternalle  atau pendidikan tingkat  taman kanak-kanak.  Di taman kanak-kanak ini seorang anak sudah dapat masuk mulai umur dua tahun pada taman bermain, yaitu semacam playgroup.  Sementara itu di Indonesia sebelum tingkat taman kanak-kanak disediakan pula pendidikan taman bermain yang disebuat dengan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang berkembang hingga ke pelosok-pelosok desa.
Setiap tahun tidak kurang dari US$ 70 milyar atau sekitar 700 trilyun rupiah yang dianggarkan untuk bidang pendidikan.  Jumlah ini mencapai 23 persen dari total anggaran tahunan Pemerintah Perancis, menjadi salah satu negara yang menyediakan anggaran pendidikan terbesar di dunia. Sementara itu kebijakan Pemerintah Indonesia menganggarkan 20 % anggaran negara untuk pendidikan. Sistem pendidikan di Perancis juga telah melahirkan tenaga yang bergerak di bidang pendidikan yang cukup besar, yakni sekitar 1,7 juta pegawai yang bekerja di bidang pendidikan.
Tingkat penghasilan guru di Perancis telah cukup tinggi,  contohnya seorang guru senior yang memperoleh pendapatan bulanan sekitar 40.000 hingga 50.000 euro  atau sekitar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta per bulan. Untuk menjadi tenaga guru, termasuk dosen tidaklah mudah karena ia akan menjadi tenaga utama dalam menjamin kualitas pendidikan bangsa. Sedangkan seorang guru baru gajinya per bulan yang paling rendah adalah sekitar 25.000 euro atau sekitar Rp 30 juta yang ditambah dengan berbagai fasilitas penunjang lainnya, seperti rumah, kendaraan, kebutuhan hidup, jaminan kesehatan, tunjangan hari tua yang ditanggung oleh pemerintah. Dengan kondisi ini maka guru akan dapat berkonsentrasi penuh dalam mengajar dan mencerdaskan anak-anak bangsanya.  Hal ini belum bisa dibandingkan dengan negara Indonesia karena jumlah gaji guru dan pegawai negeri lainnya masih relatif rendah.  Bahkan masih banyak guru yang penghasilannya di bawah standar pendapatan nasional, seperti guru-guru honor dan guru sekolah swasta.  Kedudukan guru juga belum istimewa seperti halnya di Perancis.
Proses pengangkatan guru dan dosen diadakan rekruitmen yang sangat ketat dan teruji. Hal ini didukung pula oleh penelitian yang menyatakan bahwa guru dan dosen di Perancis merupakan salah satu dari tiga kelompok profesi yang mendapatkan kesejahteraan yang tertinggi dari pemerintah.  Yang pertama adalah para penegak hukum (hakim, jaksa, lawyer) dan yang kedua adalah para pegawai publik yang melayani masyarakat, seperti dokter, perawat, pegawai negeri dan lainnya. 
C.      Tingkatan Pendidikan
Sentralisasi penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh Pemerintah Perancis  tersebut selanjutnya menetapkan tiga jenjang pendidikan, yaitu : Pendidikan Dasar (enseignement primaire), Pendidikan Menengah (enseignement secondaire)dan Pendidikan Tinggi (enseignement superieur). Hal ini hampir sama dengan di Indonesia, yaitu adanya pendidikan pra sekolah (PAUD dan TK), pendidikan dasar (SD), pendidikan menengah (SMP dan SMA) serta pendidikan tinggi (S1, S2 dan S3).

Pendidikan Dasar (Enseignement Primaire)
Pendidikan dasar dimulai dari tingkat taman kanak-kanak (Ecole Maternelle) sebagai tingkat prasekolah. Anak yang telah berumur dua tahun sudah boleh masuk taman kanak-kanak. Pada pendidikan tingkatan ini anak-anak diperkenalkan praktek hidup secara berkelompok, keterampilan sederhana dan pengenalan huruf dan angka. Sistem pengajaran di TK sendiri dimulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 17.00 sore yang disesuaikan dengan orang tuanya yang pegawai bekerja dari pukul 09.00 pagi hingga 17.00 sore. Sedangkan hari Sabtu dan Minggu libur. Selama anak berada di ruang sekolah tersebut mereka sepenuhnya berada di bawah asuhan dan bimbingan guru, mereka diberi makan siang dan istirahat siang. 
Pendidikan dasar dimulai pada usia enam tahun dan berlangsung selama lima tahun, yaitu : kelas persiapan (CPI), kelas dasar-1 (CE-1), kelas dasar-2 (CE-2), kelas menengah-1 (CM-1), dan kelas menengah-2 (CM-2). Pendidikan dasar adalah untuk membekali anak-anak tentang kehidupan bermasyarakat, memberikan kemampaun membaca dan berhitung sebagai persiapan untuk ke jenjang pendidikan di atasnya, yaitu menengah (Lycees dan Colleges).  Anak-anak sekolah di TK dan SD negeri dibebaskan dari pembayaran, dan memperoleh buku-bulu pelajaran secara gratis.

Pendidikan Menengah (Enseignement Secondaire)
Pendidikan menengah di Perancis dibedakan menjadi dua, yaitu College (setingkat SMP) dan Lycee (setingkat SMA).  Pada pendidikan menengah tingkat pertama ditempuh selama empat tahun dan pada tingkat akhir anak diberi kesempatan untuk memilih jurusan ke sekolah lanjutan atas. Pada tingkat inipun peserta didik tidak dipungut biaya dan buku-buku pelajaran disediakan gratis. Bagian pendidikan kejuruan menyediakan tenaga ahli di bidang perindustrian, perdagangan, seni dan keterampilan dan spesialisasi lainnya yang dapat dimasuki setelah tahun ketujuh pendidikan dasar. Selain itu sekarang berkembang pendidikan kejuruan dengan program paruh waktu guna memberikan peluang kepada siswa yang sudah bekerja agar tetap belajar dan bagi pelajar yang ingin sambil bekerja.
Pendidikan menengah atas (Lycee) dilalui selama tiga tahun, yaitu : kelas satu dan dua serta kelas terminal dengan tetap mempertahankan pendidikan fundamental. Sejak tahun pertama ada tiga jurusan, yaitu : Sastra, Ilmu Pengertahuan Alam (IPA) dan Teknik Industri/Sains Teknik serta Teknik Ekonomi. Pada akhir pendidikan di tingkat Lycee, peserta didik yang lulus memperoleh ijazah Baccalaureat yang menjadi syarat masuk universitas atau masuk sekolah tinggi. Sekolah profesional sama dengan sekolah kejuruan di Indonesia, yakni memberikan  pendidikan profesi setelah tamat sekolah lanjutan atas berupa pendidikan praktek dan teori selama dua hingga tiga tahun. Biasanya pada tahun kedua diberikan pelajaran praktik kerja di sekolah dan perusahaan.  Namun demikian, baik College maupun Lyceekeduanya sama-sama bertujuan untuk mempersiapkan siswa untuk mengikuti ujian Baccalaureat

Pendidikan Tinggi (Enseignement Superieur)
Untuk jenjang pendidikan tinggi di Perancis dibagi antara sekolah tinggi (Grandes Ecoles) dan universitas.  Sekolah tinggi dianggap lebih baik dan populer dibandingkan universitas karena secara umum dipandang jauh lebih selektif. Universitas berada di bawah Kementrian Pemuda, Pendidikan Nasional dan Riset sedangkan Grandes Ecole di bawah Kementrian Teknis sesuai bidang yang ditangani. Pendidikan di Universitas bersifat teoritis dan umum sedangkan Grandes Ecoles bersifat teknis. Di Indonesia dikenal adanya universitas yang lebih berorientasi untuk menjadi ilmuwan karena mempelajari secara mendalam bidang ilmu tertentu.  Sedangkan akademi adalah pendidikan yang bersifat penyediaan tenaga kerja trampil karena lebih banyak bepraktek di samping mempelajari teori-teori.
Pendidikan tinggi di Perancis ukurannya kecil dan kemapanan dalam keragaman, maksudnya bahwa secara fisik bangunan-bangunan yang ada di Perancis tergolong kecil dan jumlah mahasiswanya yang sedikit.  Akan tetapi secara kualitas pendidikan tinggi di Perancis lebih mengutamakan hasil optimal dari tiap-tiap pembelajaran dalam aspek jurusan masing-masing. Sementara itu di Indonesia kita perhatikan pada umumnya perguruan tinggi sangat besar dengan jumlah jurusan/fakultas yang banyak serta mahasiswanya yang berjumlah ribuan orang.
Kekhasan lain pada pendididkan tinggi di Perancis terdapat pada organisasai dan sistem pengelolaannya, yaitu  dengan telah ditetapakannya tiga asas yang mendasari lembaga pendidikan tinggi, yaitu :
  1. Adanya hak otonomi pada universitas untuk mengurus bidang keuangan, administrasi dan ilmu pendidkan,
  2. Adanya partisipasi mahasiswa, pengajar dan civitas akademika pada segala kegiatan pendidikan dan pada pemilihan pengelola pendidikan dan sebagainya,
  3. Bersifat multidisiplin sehingga dapat menghindari spesialisasi yang sempit.
      
Superior Pendidkan Tinggi
Pendidikan tinggi diselenggarakan dalam bentuk akademi yang mempunyai fakultas dan universitas yang konvensional.  Namun tidak semuanya mempunyai perangkat fakultas yang lengkap. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, peran universitas dalam diperluas dengan meningkatkan daya tampung pada fakultas-fakultas yang telah ada serta  menambahkan jurusan-jurusan baru.
Menurut hasil penelitian di Perancis bahwa  sistem pendidikan telah dapat mendeteksi bakat dan kemampuan anak sejak awal pendidikan dan sudah bisa menentukan jurusan sesuai minat anak sejak dini.  Jadi tidak semua anak berpacu untuk memilih satu jurusan tertentu saja, misalnya hanya memilih untuk jadi dokter atau jadi insinyur saja. Siswa juga tidak dituntut harus mendalami seluruh mata pelajaran, tetapi cukup hanya dasar-dasarnya saja.  Kemudian bidang yang sesuai dengan bakat dan kemampuan siswa akan dipelajarinya lebih mendalam sehingga lebih terpusat. Bagi yang berminat melanjutkan pendidikannya ke Grande Ecole, harus mengikuti test yang cukup berat. Yang tidak diterima pada Grande Ecole secara langsung akan masuk ke universitas.

D.                Perbandingan Pendidikan di Perancis dan Indonesia
Membandingkan pendidikan di Perancis dengan Indonesia dapat diasosiasikan dengan membandingkan pendidikan di negara maju dengan negara berkembang.  Ada beberapa kriteria pendidikan di negara maju dan di negara berkembang yang telah terlaksana selama ini, yaitu : 
Faktor Mempengaruhi Pendidikan di Negara Maju
v  The relationship between education and employment and preparation for the transition from school to work. (Hubungan antara pendidikan pendidikan dan dunia kerja dari sekolah ke pekerjaan sudah ada),
v  A commitment to life-longeducation. (Adanya komitmen untuk melaksanakan pendidikan seumur hidup),
v  The expansion of educational facilities. (Penyediaan fasilitas pendidikan yang cukup memadai),
v  Teacher education for tomorrow. (Pendidikan guru untuk persiapan ke masa depan),
v  Hubungan antara program kependidikan di lembaga- lembaga kependidikan dengan dunia kerja,
v  Persiapan menghadapi masa peralihan dari masa sekolah ke masa kerja serta masa hidup bermasyarakat,
v  Pendidikan seumur hidup,
v  Perluasan fasilitas dan pelayanan kependidikan dalam menghadapi hambatan ekonomi,
v  Penyediaan tenaga guru yang lebih bermutu untuk mempersiapkan anak didik menghadapi masyarakat masa depan yang semakin kompleks,
v  Pemerataan dan efektivitas  pendidikan,
v  Sumber daya alam telah dimanfaatkan secara optimal oleh negara,
·         Tetap berpegang teguh pada nilai-nlai budaya yang berlaku di negara setempat,
·         Telah dapat mengatasi permasalahan kependudukan dengan baik,
·         Tingkat produktivitas masyarakat tinggi yang didominasi barang dan jasa,
·         Tingkat dan kualitas hidup masyarakat telah tinggi,
·         Ekspor yang terbanyak adalah hasil industri dan jasa,
·         Telah terpenuhinya penyediaan fasilitas umum,
·         Kesadaran hukum, kesetaraan gender, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia telah dijunjung tinggi,
·         Tingkat pendidikan relatif tinggi,
·         Tingkat pendapatan penduduk relatif tinggi,
·         Tingkat kesehatan sudah baik
Faktor Mempengaruhi Pendidikan di Negara Berkembang
  • Secara ekonomi, pada umumnya miskin dan masih sangat tergantung pada alam,
  • Secara demografis, pada umumnya padat penduduk, dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang relatif tinggi,
  • Secara budaya, masih kuat berpegang pada nilai budaya,
  • Perbandingan mahasiswa dengan gelar doktor di universitas tidak memadai karena mahasiswa tidak didorong untuk meraih gelar doktor dan bekerja di universitas,
  • Universitas kurang memperhatikan masalah masyarakat dan telah gagal untuk mengembangkan kerjasama dengan lembaga negara dan lembaga swadaya masyarakat untuk antisipasi  isu-isu seperti pendidikan,  kesehatan, energi, pertanian dan jasa,
  • Program pendidikan di perguruan tinggi belum siap untuk memenuhi kebutuhan sektor usaha. Hal ini disebabkan  adanya ketidakharmonisan antara keterampilan di universitas dengan ketrampilan yang dituntut oleh dunia usaha,
  • Lembaga pendidikan tinggi gagal memberi dukungan yang cukup untuk pembangunan ekonomi negara,
  • Universitas tertinggal  dalam perkembangan dan transfer teknologi,
  • Kebanyakan staf akademik di universitas tidak dilengkapi dengan pengetahuan paedagogis.
  • Faktor  ekonomi, banyak siswa yang tidak dapat melanjutkan studi karena masalah biaya,
  • Faktor sosial, adanya anggapan bahwa wanita terutama di pedesaan tidak memerlukan pendidikan, lebih baik menjadi ibu rumah tangga saja,
  • Faktor sistem pendidikan, banyak siswa menengah atas yang tidak bisa melanjutkan pendidikan karena kurangnya daya tampung yang tersedia,
  • Pemerintah juga kurang memenuhi standar dibandingkan pendidikan swasta,
  • Kasus banyaknya tamatan sarjana yang menganggur karena tidak mendapatkan pekerjaan,
  • Faktor kedisiplinan guru, cukup banyak guru yang sudah difasilitasi oleh pemerintah tetapi tidak menjalankan tugas dengan baik,
  • Kesenjangan ekonomi antar daerah,
  • Adanya diskriminasi gender,
  • Kurangnya pendidikan yang bersifat teknis, sehingga banyak lulusan yang tidak memiliki ketrampilan tertentu setelah tamat pendidikan,
  • Terbatasnya penyediaan/alokasi dana dari pemerintah,
  • Kurangnya tenaga pendidik atau guru yang terampil dan profesional,
  • Kemiskinan yang kronis dan meluas,
  • Tingkat pengangguran yang tinggi dan cenderung meningkat,
  • Ketidakmerataan distribusi pendapatan antar penduduk,
  • Rendahnya tingkat produktivitas di sektor pertanian,
  • Tidak meratanya kesempatan ekonomi antara desa dan kota,
  • Kurangnya pelayanan kesehatan dan pendidikan,
  • Memburuknya neraca pembayaran dan hutang luar negeri,
  • Meningkatnya ketergantungan terhadap luar negeri,
  • Lemahnya kelembagaan masyarakat, 


PENUTUP
Memperbandingkan sistem pendidikan antara beberapa negara penting artinya untuk mentransfer hal-hal positif yang telah dilakukan oleh suatu negara.  Bagi Indonesia perlu mengenal bentuk dan model pendidikan di negara lain karena sistem pendidikan Indonesia masih perlu penyempurnaan dan perubahan.  Terutama Indonesia perlu melihat kepada beberapa negara yang telah maju sistem pendidikannya, seperti Finlandia, Inggeris, Australia, Amerika Serikat, Perancis dan sebagainya.
Memperbandingkan sistem pendidikan tidak dapat dilakukan serta merta karena ada nilai-nilai khusus yang tidak dapat dipersandingkan serta kekuatan lokal yang tidak dapat ditransfer secara utuh.  Misalnya sistem pendidikan di Jepang yang masih sangat kuat berpegang teguh kepada nilai-nilai budaya setempat yang belum tentu dimiliki oleh negara lain.  Sementara itu Indonesia memiliki nilai-nilai luhur Pancasila yang menjadi dasar sistem pendidikan sehingga menjadi kekhasan pendidikan di negara ini.
Sistem pendidikan Indonesia dan Perancis tidak dapat dipersandingkan secara utuh, namun ada beberapa nilai-nilai yang dapat diaplikasikan dalam memajukan pendidikan di Indonesia.  Apalagi Perancis adalah salah satu negara yang maju pendidikannya dan telah menjadi tujuan oleh mahasiswa dari berbagai penjuru dunia.  Perancis juga berhasil mensejalankan antara pendidikan dengan lapangan kerja sehingga tamatan pendidikan dari berbagai tingkatan dapat langsung bekerja sesuai keahliannya.  Selanjutnya Indonesia juga perlu menjalin kerjasama dengan Perancis untuk menyusun sistem pendidikan yang lebih baik.

Untuk lebih lanjutnya dapat dilihat di www.exzellenz-institut.com

Sumber :

http://www.sumbarprov.go.id/details/news/7168


Kamis, 02 November 2017

Ini Alasan Perlunya Sekolah di Perancis

JAKARTA – Siapa yang tidak tahu salah satu kota temasyhur di dunia ini. Yup! Paris. Selain terkenal dengan Menara Eiffell-nya. Kamu juga perlu tahu alasan lain mengapa Paris cocok dijadikan tujuan studimu nanti.
Apa saja alasannya? Berikut ini paparannya :
1. Kampus terbaik dunia
Di Paris terdapat tiga kampus yang masuk jajaran kampus terbaik di dunia. Ketiganya adalah Ecole Normale Supérieure, Ecole Polytechnique, dan Université Pierre.
2. Berkumpulnya orang-orang besar
Paris yang menjadi ibu kota Prancis itu menjadi tempat bagi bertemunya banyak pebisnis profesional, politikus, ilmuwan, bahkan fashion desaigner. Dengan begitu, kamu bisa membangun jaringan dengan orang-orang seperti mereka.
3. Berkumpulnya orang-orang berbakat
Paris menghadirkan orang-orang dengan tingkat intelektual yang baik. Di lingkungannya juga terdapat sejumlah orang berbakat.
4. Kota yang indah
Di sini kamu bisa menemukan berbagai warna, tekstur, dan bentuk kota yang indah. Selain itu, banyak pemandangan indah terpampang di sana.
5. Banyak tersedia makanan lezat
Bagi pencinta kuliner, kamu bisa menemukan sejumlah makanan yang bisa menggugah selera. Ini tempat yang tepat bagi penyuka kuliner, karena banyak makanan enak tersedia di sana.
6. Kaya akan makanan
Paris memiliki atmosfer yang kaya dengan makanan lezat. Di setiap langkah kamu akan mencium atmosfer tersebut. Sensasi itu pasti akan menjadi pengalaman yang menyenangkan ketika kamu berada di sana.
7. Kota yang besar
Paris menjadi tempat yang tepat untuk bisa bersantai, merasakan kedamaian, dan begitu indah. Ketika berkuliah di Paris, maka kamu akan bisa menikmati keheningan yang sama baik di kota maupun di desa.
8. Kaya dengan museum
Paris banyak memiliki museum, monument, dan landmarks. Karena itu, selama berkuliah di sana, kamu akan menjadi turis sungguhan.
9. Kemampuan bahasa Prancis
Bisa berbahasa Prancis menjadi salah satu kemampuan yang dibutuhkan. Sebab, ini adalah salah satu bahasa resmi yang digunakan di PBB.
10. Tempat yang aman
Paris menjadi salah satu kota aman bagi mereka yang senang berjalan-jalan. Kotanya sangat damai dan menyenangkan. (afr)

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di www.exzellenz-institut.com
Sumber :
https://news.okezone.com/read/2015/09/26/65/1221248/ini-alasan-perlunya-sekolah-di-prancis

Rabu, 25 Oktober 2017

SEKOLAH KE PERANCIS : Biaya Bragam Tetapi Mengedepankan Kualitas

BISNIS.COM , JAKARTA – Peluang sekolah di Prancis semakin terbuka untuk Indonesia. Hal ini merupakan usaha yang gencar dipublikasikan bahwa negara tersebut mudah dijangkau.
Prancis merupakan salah satu negara yang  diminati oleh siswa di Indonesia. Setiap tahun Institut Francais Indonesia (IFI)  membantu setidaknya 600 siswa setiap tahun untuk bersekolah di negara tersebut.
Ditemui saat demo masak masakan Prancis bersama Franck Bruwier, Penanggung Jawab Campus France Indonesia, Flora Stienne mengatakan setiap tahun peminat untuk sekolah di Prancis terus meningkat.
“Setiap tahun banyak siswa yang datang pada kami untuk bertanya. Dari 2011 hingga 2012 lalu, kurang lebih siswa yang kami kirim ke Prancis meningkat menjadi 23%”, imbuh Stienne pada Bisnis Indonesia hari ini,  Sabtu (23/03/2013).
Siswa Indonesia sendiri memiliki berbagai macam alasan ke Prancis. Selain beradai di jantung benua Eropa, biaya sekolah ke Prancis yang telah mendapat subsidi dari pemerintah Prancis menjadi lebih ringan. Siswa yang ada di Prancis saat ini 70% dengan biaya sendiri. Lainnya bersekolah di sana dengan bantuan beasiswa.
“181€ untuk S1 pertahun, sedangkan untuk S2 hanya membayar 250€ pertahun. Jenjang studi S1 di Prancis hanya ditempuh selama 3 tahun. IFI bisa membantu mulai dari pendaftaran hingga pembuatan visa tanpa dipungut biaya. Hanya Rp1.900.000 untuk administrasi pendaftaran ke Prancis. ” ujar Anton Hilman, penanggung jawab di Campus France Jakarta pada hari Sabtu (23/03/2013)
Sekolah kejuruan seperti Le Cordon Bleu berbeda. Karena memberikan hal teknis, pembayarannya pun tidak semurah sekolah biasa. Mengambil kelas di Le Cordon Bleu harus mempersiapkan dana sebesar 1.800€ untuk progaram menjadi chef. Program tersebut ditempuh selama delapan hingga sembilan bulan. Persyaratan umum adalah mampu berbahasa Prancis minimal telah menempuh tes bahasa Prancis level DELF 2.
“Memang mahal, tapi di sekolah tersebut (Le Cordon Bleu) mendapat banyak keuntungan. Akses dan jaringan Le Cordon Bleu luas, selain itu kualitas sudah terjamin,” imbuh Anton.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di www.exzellenz-institut.com
Sumber : 
- Inda Marlina
- http://kabar24.bisnis.com/read/20130323/78/4913/sekolah-ke-prancis-biaya-beragam-tetapi-mengedepankan-kualitas

Rabu, 18 Oktober 2017

Studi Luar Negeri, Apa Manfaatnya?

KOMPAS.com - Kesempatan untuk melanjutkan studi ke luar negeri semakin terbuka lebar. Anda bisa meraih kesempatan itu dengan berkompetisi memperebutkan kursi yang disediakan oleh lembaga donor beasiswa. Lalu, apa manfaat yang bisa dirasakan dengan melanjutkan studi di luar negeri? Seperti dikutip dari College Life, setidaknya ada tujuh hal positif yang bisa dirasakan dengan memiliki pengalaman belajar di negeri orang. Apa saja?
 
1. Meningkatkan kemampuan akademis
Sekolah baru, lingkungan akademik baru, atau mengambil kelas bahasa asing, akan memberikan pengalaman akademis yang lebih menantang. Tidakkah Anda ingin merasakannya?
 
2. Meningkatkan kemampuan berbahasa asing
Tak dipungkiri lagi, cara terbaik agar lancar berbahasa asing adalah dengan sering menerapkannya. Studi di luar negeri akan membantu Anda untuk melancarkan kemampuan berbahasa asing. Kemampuan berbahasa ini tentunya akan membantu Anda untuk lebih mudah beradaptasi.
3. Paparan budaya baru
Perguruan tinggi juga merupakan tempat bagi Anda untuk mengenal berbagai budaya baru, karena bertemu dengan orang dari banyak latar belakang. 
 
4. Menambah karakter intelektual
Perguruan tinggi mencari mahasiswa yang bersifat intelektual dan bersemangat akan bidang studi mereka. Tidak ada cara lain yang bisa Anda tunjukkan selain sifat intelektual, kemampuan di suatu bidang akademik untuk membuat Anda terlihat lebih menonjol dibanding pesaing lainnya. Cara itu juga dapat Anda gunakan untuk bersaing dengan teman sekelas ketika sudah menjalani studi. 
 
5. Inisiatif dan mandiri
Merasakan jauh dari keluarga pasti akan memberikan pengalaman untuk lebih mandiri dan penuh inisiatif. Dimaklumi, karena Anda harus menjalani hidup sendiri di lingkungan yang jauh berbeda dengan negara asal. Tak jarang, di sinilah akan terlihat kualitas pribadi Anda. 
 
6. Bertemu orang baru, tempat baru, dan ide baru.
Belajar dengan sungguh-sungguh tentang program studi yang diambil, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Lingkungan yang baru yang Anda masuki,  bagaimana pun juga dapat menjadi dunia baru yang luar biasa. Cara terbaik untuk membangun skill adalah aktif di kampus.
 
7. Tunjukkan siapa Anda
Masuk ke dalam perguruan tinggi tidaklah mudah. Dengan studi di luar negeri, dapat membedakan Anda dengan pelajar lainnya. Terutama, jika program studi yang Anda pilih memang yang benar-benar Anda minati. Jalani dengan serius dan tunjukkan siapa diri Anda. (M07-12)

Untuk lebih detailnya dapat dilihat di www.exzellenz-institut.com

Sumber :
- College Life
- http://edukasi.kompas.com/read/2012/03/20/1101377/Studi.Luar.Negeri.Apa.Manfaatnya

Selasa, 10 Oktober 2017

Tips untuk membuat rencana kuliah di luar negeri

Putra Gracie Riesgo yang berusia 19 tahun, Alex, kini memasuki tahun keduanya di univeristas, tetapi ia jarang pulang. Pasalnya, ia kuliah di Madrid, Spanyol, hampir 9.650 kilometer jaraknya dari tempat tinggal orang tuanya di California, Amerika Serikat.
“Dia mempunyai jiwa petualang dan dia selalu mencari kesempatan untuk bepergian,” kata Riesgo tentang keinginan anaknya untuk kuliah di Spanyol. “Kami mula-mula bilang jangan. Kami pikir sebagai anak yang baru mulai kuliah, hal itu akan terlalu sulit bagi dirinya. Dia belum pernah hidup sendiri tadinya. Tetapi ini menjadi pengalaman yang bagus untuk semua orang. Putra saya juga benar-benar jadi dewasa.”
Secara global, hampir 4,3 juta mahasiswa kini kuliah di bukan negaranya sendiri, menurut Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Negara yang memiliki persentase besar mahasiswa internasional termasuk Australia, Inggris, Swiss, Selandia Baru dan Austria -berdasarkan urutan paling banyak ke paling sedikit- dan lebih dari setengah mahasiswa asing adalah para mahasiswa asal Asia.
“Semua mahasiswa yang ingin sukses dalam perekonomian global harus kuliah di luar negeri,” kata Daniel Obst, wakil deputi wakil presiden Kemitraan Internasional dalam Pendidikan Tinggi untuk Institute of International Education (IIE) di Amerika Serikat.
“Perusahaan mencari para lulusan yang dapat bekerja di tim-tim multinasional, yang berbicara dalam berbagai bahasa, yang dapat bekerja dengan mudah melintasi zona waktu berbeda-beda, dan yang memiliki keluwesan serta kemampuan adaptasi yang didapatkan dari tinggal di luar negeri.”
Mahasiswa
Image captionAustralia, Inggris, Swiss, Selandia Baru, dan Austria memiliki porsi mahasiswa asing yang relatif besar.
Jika anak Anda yang akan mulai kuliah tengah mempertimbangkan untuk belajar sementara waktu di luar negeri —atau sampai selesai kuliah di luar negeri— berikut ini hal-hal yang perlu Anda ketahui.
Apa yang diperlukan: Anak Anda perlu mandiri untuk bisa mengurus diri sendiri ketika jauh dari rumah —mungkin ribuan kilometer jauhnya dari keluarga atau teman- di tempat yang mungkin sepenuhnya menggunakan bahasa yang berbeda. Keterampilan berbahasa adalah keuntungan, jika bukan merupakan keperluan mutlak dan kemampuan menyelesaikan masalah wajib dimiliki.
Berapa lama harus mempersiapkan diri: Oleh karena negara yang berbeda memiliki persyaratan pendaftaran dan lini waktu yang berbeda, Anda dan anak Anda harus mulai mencari tahu mengenai program yang diinginkan secepat mungkin setelah ada minat untuk belajar di luar negeri —terutama jika anak Anda berniat melamar bantuan keuangan atau beasiswa untuk bisa belajar di luar negeri dan juga jika memerlukan visa untuk pergi ke negara tujuan.
Lakukan sekarang juga: Mulai melakukan riset. Ada banyak macam program belajar di luar negeri di seluruh dunia, dengan tingkat kesulitan dan durasi yang berbeda-beda pula. Sejumlah program diajarkan dalam Bahasa Inggris. Sejumlah program memungkinkan Anda mendapatkan gelar dari dua lembaga pendidikan pada waktu yang bersamaan, dan di sejumlah tempat, pendidikan jauh lebih ketat dan tempat lainnya tidak terlalu ketat.
“Saya pikir banyak program belajar di luar negeri cukup mudah, dan membuat kita berpikir, apakah ini benar merupakan pengalaman pendidikan yang baik?” kata Lynn O’Shaughnessy, pakar universitas AS dan penulis buku The College Solution, yang putra dan putrinya belajar di luar negeri.
“Anda perlu benar-benar memahami dulu seperti apa program itu.”
Berbagai situs internet, seperti IIEpassport.org, IESabroad.org dan StudyAbroad.com, merupakan tempat yang baik untuk memulainya.
MahasiswaHak atas fotoGETTY
Image captionBiaya kuliah di luar negeri bisa lebih besar.
Cari tahu apakah bisa mentransfer kredit. Jika anak Anda tidak belajar di universitas di luar negeri sampai lulus —misalnya hanya belajar di sana satu semester atau satu tahun— pastikan kelas yang sudah diambil bisa ditransfer nilainya ke program gelar di universitas di negara Anda.
“Anda harus memastikan bisa mendapatkan kredit yang sudah ada,” kata Obst, “agar Anda tidak perlu memulai lagi dari awal.”
Menyadari bahwa biayanya bisa lebih besar. Jika Anda belajar di luar negeri melalui universitas lokal, Anda mungkin harus membayar uang kulaih dan biaya lain, ditambah biaya ekstra untuk program belajar di luar negeri. Selain itu ada juga biaya hidup.
“Yang harus dipikirkan adalah betapa mahalnya berada di negara lain,” kata O’Shaughnessy. “Putri saya berada di Barcelona, dan nilai tukarnya tidak bagus untuk Amerika, jadi semua terasa sangat mahal.”
Tetapi bisa lebih murah. “Yang kami lihat di AS adalah meningkatnya jumlah mahasiswa yang pergi ke luar negeri untuk mencapai gelar penuh, apakah itu tingkat S1 atau pun tingkatan setelah S1,” kata Obst.
“Kebanyakan mereka pergi ke Eropa. Salah satu alasannya adalah uang kuliahnya lebih murah [dibanding AS] di sebagian tempat, dan banyak program diajarkan dalam bahasa Inggris. Anda tidak harus pergi ke Jerman dan berbicara lancar dalam bahasa Jerman untuk mendaftar di universitas.”
Di sejumlah tempat, struktur sebuah program dapat membuatnya lebih murah daripada pilihan lokal. Di Inggris, misalnya, Anda dapat menyelesaikan program master dalam satu tahun alih-alih dalam dua tahun seperti biasanya. Di Universitas Cambridge, Anda bisa mendapatkan gelar master dalam administrasi bisnis dalam 12 bulan kuliah penuh, dengan biaya £49.000 (Rp958 juta). Gelar MBA di Universitas Harvard di AS memerlukan biaya dua kali lipat dari itu dan juga biaya lainnya untuk dua tahun.
Mahasiswa
Image captionKuliah di luar negeri sebaiknya tidak dilihat sebagai sebuah liburan panjang.
“Ini membuat Inggris, sebagai tempat tujuan, lebih menarik,” kata Jacqui Jenkins, penasihat senior untuk pendidikan di British Council. Biaya hidup tergantung pada di mana Anda kuliah, tentunya —London akan jauh lebih mahal daripada Manchester, sebagai contoh— tetapi jika Anda dapat mengurangi cukup banyak waktu dari persyaratan kuliah, Anda akan bisa bekerja lebih cepat.
Periksa asuransi kesehatan Anda. Jika anak Anda yang akan kuliah masih dicakup oleh asuransi kesehatan Anda, pastikan asuransi itu dapat melindunginya ketika ia berada di negara lain —dan akan lebih baik jika mencakup bukan hanya sekadar perawatan darurat. Jika anak Anda masuk program belajar di luar negeri sebagai bagian dari universitas di negara Anda, maka mungkin saja asuransi yang Anda beli dari sekolah itu mencakup keberadaannya di luar negeri.
Selain itu, ada juga perusahaan yang khusus menjual asuransi untuk tujuan seperti ini, seperti misalnya Compass Benefits Group dan HTH Travel Insurance.
Pastikan Anak Anda dapat menghadapinya. Universitas memerlukan penyesuaian besar. Universitas di negara lain yang jauh dari rumah merupakan lompatan yang lebih besar lagi. “Ada banyak mahasiswa yang belum dewasa,” kata O’Shaughnessy. “Saya kira terlalu banyak mahasiswa yang memandangnya sebagai sebuah liburan panjang.”
Ingatlah, masalah bisa muncul dan mencari jalan ke luarnya ketika Anda berapa ribuan kilometer dari rumah bisa cukup sulit.
Manfaatkan teknologi. Belajar di luar negeri sekarang ini sangat berbeda dari 20 tahun lalu —sekarang jauh lebih mudah untuk tetap berhubungan. “Kami sering bicara dengan putri kami melalui Skype,” kata O’Shaughnessy. “Kami letakkan laptop di meja makan dan berbicara kepadanya seolah-olah ia juga duduk di meja dan sedang makan bersama.”
Dorong mereka untuk berbaur. Meskipun lebih mudah untuk berbicara dengan anak Anda sekalipun anak Anda tinggal di benua yang berbeda, tetap doronglah anak Anda untuk tidak duduk saja di depan komputer dan berbaur dengan kehidupan lokal.
“Mahasiswa harus mencoba dan beradaptasi serta berintegrasi dengan budaya setempat, jangan terus-terusan di komputer dan mengobrol dengan teman di kampung halaman,” kata Obst. “Anda ingin anak Anda memiliki pengalaman nyata di luar negeri.”
Untuk lebih detailnya dapat dilihat di www.exzellenz-institut.com
Sumber :
http://www.bbc.com/indonesia/vert_cap/2016/02/160130_vert_cap_kuliah_luarnegeri